Rabu, 03 Agustus 2022

Memilih Pasangan Hidup Itu?

Di Usia Hampir Kepala 3 Apakah Sebuah Aib Belum Menikah?

Di umur yang sudah menginjak hampir kepala 3 ini. Mungkin tak asing bagi kita ditanya kapan nikah?. Kok si B udaha nikah,kamu belum,Si C udh punya anak tuh kamu masak belum nikah nikah?. Mau nunggu sampe kapan sendiri terus meluk guling gitu ungkap teman-temanku yang sudah menikah.  Rasanya diriku sudah bosan dengan pertanyaan yang sangat familiar di kupingku itu.

Apakah tidak menikah di usia 25 keatas itu sebuah aib?. Tapi memang begitu lah realita di sekitar kita. Padahal orang luar negeri banyak yang sampai umur 40 pun masih tetap melajang. Kita tidak tahu alasan apa yang membuat mereka melajang. Padahal harta mungkin udah banyak. Finansial sudah pasti aman. Kalau orang biasa seperti kita pasti mikir "Ni orang udah banyak duit mubzir banget gak nikah". Hey! kalian fikir nikah itu cuma tentang finansial yang stabil dan kamu tinggal dengan pasanganmu?. Tidak brother, Menikah itu menyatukan dua kepala yang sangat berbeda dari segi watak,karakter,profesi,dan latar belakang keluarga juga. Jadi kaliaan fikir itu mudaah untuk distukan dengan instan?. Kurasa tidak. Perlu saling mengenal terlebih dahulu. Bagaimana keluarganya,bagaimana keseharianya,bagaimana sifatnya terhadap orang lain. Tidak bisa asal pilih dan harus yang benar-benar pilihan yang terbaik dari yang terbaik. 

Tapi sekarang ini katanya lagi ngetrend nih ta'aruf?. Memang ta'aruf udah ada sejak zaman nabi dahulu. Namun konsep Ta'aruf di zaman modern ini sepertinya rada berbeda. Banyak juga jasa biro jodoh yang menyediakan calon mempelai yang dirahasiakan identitas dan wajahnya. Lantas bagaimana cara mengenal calon lebih dalam?. Konon katanya si biro jodoh ini memfasilitasi 2 insan yang ingin serius ber Ta'aruf untuk bertemu namun dengan syarat harus membayar sejumlah uang ke biro jasa Ta'aruf tersebut. Dan kebanyakan yang mencari jodoh tersebut adalah para pekerja yang usianya diatas 30. Jadi apa salah biro jodoh tersebut?. Menurutku sih salah,karena mereka memanfaatkan kecnggihan teknologi untuk meraup keuntungan.. itu salahnya. Namun aku tidak tahu betul bagaimana hukumnya jika ada orang yang merasa diuntungkan dengan adanya biro Ta'aruf ini. Karena aku bukaan ahli agama. Dan pengetahuan ku masih awam tentang itu.

Yah,semua kembali ke pilihan masing-masing. Kalau Ta'aruf dari jalur keluarga mungkin aku lebih memaklumi. Tapi bukankah dijodoh jodohkan dengan orang yang tidak kamu sukai dan belum pernah kamu temui bahkan belum kamu ketahui wataknya,keluarganya tentunya akan menjadi sangat annoying jika tiba-tiba memilih keputusan untuk menikah. 

Pemilih bukan berarti nggak mau nikah bukan?

Dibilang pemilih,iya aku seorang yang cukup pemilih terutama masalah jodoh. Apakah salah menjadi pemilih?. Nggak juga kan!!. Wajar bukan menjadi pemilih untuk memilih partner seumur hidup?. Beruntunglah mereka,karena sudah mendapatkan pasangan yang tepat dan dalam waktu yang cepat pula. Bukankah datangnya jodoh itu tak seperti balapan MotoGP?. Apa yang tercepat yang bakal menjadi pemenangnya?. Belum Tentu!!. banyak kok yang cepat nikah tapai cerai. Bukanya saya pesimis untuk nikah cepat-cepat. Tapi ada banyak pertimbangan yang menumpuk di kepalaku. Entah itu dari segi kecocokan,nyambung tidaknya saat ngobrol,keluaarganya welcome tidak  denganku. Dan beberapa hal lainya. 

Jadi,mungkin pilihan yang tepat untuk mendatangkan jodoh yang tepat adalah. jangan terlalu mengejar cinta manusia. Pantaskan diri,perbaiki diri,dan beribadah kepada tuhan. Kelak nanti jodoh katanya akan datang sesuai dengan kualitas diri kalian. Bisa jadi lebih baik,bisa juga malah sebaliknya. jadi tinggal bagaimana kesiapan kita untuk menjemput jodoh tersebut. Apakah kita tetap stuck dengan diri kita yang dulu,ataukah kita ingin meningkatkan kualitas diri dan berubah menjadi lebih baik lagi sehingga yang datang juga insyaallah lebih baik. Bukan begitu?.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar